Website white-label untuk agency: apa itu dan cara kerjanya
Agency menjual website atas namanya sendiri, partner mengerjakan proposal, desain, build, dan revisi. Ini cara kerjanya, isi kontraknya, dan cara memilih partner.
Website white-label adalah website yang dijual agency atas nama agency sendiri, sementara proposal, desain, build, dan revisinya dikerjakan partner di belakang layar. Klien hanya berhubungan dengan agency. Nama partner tidak muncul di proposal, demo, email, maupun website.
Model ini cocok untuk agency branding, SEO, iklan, atau event yang kliennya minta website, tapi tidak punya tim web sendiri. Agency tetap memegang klien dan harganya. Partner mengerjakan bagian yang butuh developer.
Bagaimana alur kerjanya?
- Agency kirim brief. Ringkasan kebutuhan klien dan brand guidelines. Contoh isinya ada di checklist brief website.
- Partner kirim proposal atas nama agency. Isinya audit situs lama, arah desain, scope halaman, jadwal, dan harga partner. Agency memasang harga jualnya sendiri.
- Klien setuju scope. Agency membayar uang muka ke partner.
- Partner kirim demo. Link sementara yang bisa diklik klien di HP dan laptop sebelum live.
- Revisi. Klien memberi masukan lewat agency, partner mengerjakan.
- Live. Website dipindah ke domain klien, lalu ada masa revisi setelah live.
- Perawatan bulanan. Opsional, dan boleh dijual ulang agency ke klien dengan harganya sendiri.
Apa bedanya dengan referral?
| White-label | Referral | |
|---|---|---|
| Siapa yang pegang klien | Agency | Vendor |
| Nama di proposal dan invoice | Agency | Vendor |
| Siapa yang menentukan harga ke klien | Agency | Vendor |
| Pendapatan agency | Selisih harga jual dan harga partner | Komisi dari vendor |
| Cocok untuk | Website yang jadi bagian layanan agency | Proyek di luar keahlian agency, misalnya sistem internal |
Kapan agency cocok memakai white-label?
- Klien beberapa kali minta website, tapi tidak cukup sering untuk menggaji developer penuh waktu.
- Agency sudah punya hubungan baik dengan klien dan tidak mau menyerahkannya ke vendor lain.
- Tim agency kewalahan mengurus revisi website di sela pekerjaan utama.
- Agency ingin menambah pendapatan bulanan dari perawatan website.
Apa yang harus tertulis di kontrak partner?
- Tidak saling ambil klien. Partner tidak menawari klien agency secara langsung, dan berlaku dua arah.
- Nama partner tidak muncul di dokumen, email, maupun website klien.
- Scope dan aturan revisi: apa yang termasuk revisi, apa yang dihitung fitur baru, sampai kapan revisi berlaku.
- Tenggat dan akibatnya kalau meleset: proposal, demo, dan live.
- Domain dan hosting: domain sebaiknya atas nama klien. Tulis siapa yang membayar hosting dan cara memindahkannya.
- Pembayaran: kapan uang muka, kapan pelunasan, dan apa yang terjadi kalau klien membatalkan.
Cara memilih partner white-label
Tanyakan lima hal ini sebelum mengirim klien pertama:
- Berapa lama proposal pertama jadi setelah brief lengkap?
- Bagaimana aturan revisi, dan apakah change request ditagih terpisah?
- Apakah klien bisa mengubah isi website sendiri lewat CMS?
- Apa yang terjadi kalau tenggat meleset?
- Apakah partner juga menjual langsung ke klien akhir? Kalau ya, ada risiko bersaing dengan agency sendiri.
Bagaimana Pitkru mengerjakannya?
Pitkru adalah studio website khusus agency: kami tidak pernah menjual ke klien akhir. Proposal kami kirim maksimal 1 hari kerja setelah brief lengkap, demo maksimal 3 hari kerja setelah scope disepakati, dan revisi tanpa batas selama build sampai 30 hari setelah live, di dalam scope proposal. Kalau tenggat meleset, ada potongan harga yang tertulis. Detailnya ada di garansi Pitkru.
Tanya jawab
Apakah klien tahu websitenya dibuat partner?
Tidak, kalau kontraknya white-label. Proposal, demo, dan website memakai nama agency. Nama partner tidak muncul di dokumen, email, maupun footer website.
Siapa yang memegang domain dan hosting?
Sebaiknya domain atas nama klien, supaya klien bebas pindah vendor kapan pun. Hosting boleh dipegang agency atau partner, asalkan tertulis di kontrak siapa yang membayar dan cara memindahkannya.
Apakah agency bebas menentukan harga ke klien?
Ya. Agency membayar harga partner, lalu memasang harganya sendiri ke klien. Partner tidak perlu tahu harga jual agency.