Kirim brief

Perbandingan Tim Pitkru 2 menit baca

Freelancer, software house, atau partner white-label: mana yang cocok untuk agency?

Perbandingan empat cara agency mengerjakan website klien: freelancer, software house, partner white-label, dan tim web sendiri. Dari kecepatan proposal sampai siapa yang pegang klien.

Untuk agency yang kliennya sesekali minta website, partner white-label biasanya paling pas: agency tetap memegang klien dan harga, tanpa menggaji developer. Freelancer cocok untuk proyek kecil dengan tenggat longgar, software house untuk sistem khusus, dan tim sendiri baru masuk akal kalau permintaan website datang rutin.

Di bawah ini perbandingan empat pilihan itu dari sudut pandang agency, bukan dari sudut pandang klien akhir.

Perbandingan singkat

FreelancerSoftware housePartner white-labelTim web sendiri
Nama di depan klienBisa agency, tergantung kesepakatanBiasanya nama software houseAgencyAgency
Kecepatan proposalTergantung satu orangSering berhari-hariTergantung partner; tanyakan tenggatnyaTergantung beban tim
Aturan revisiSering dibatasi rondeSering dibatasi ronde, sisanya per jamTergantung kontrakDibiayai gaji
Risiko utamaOrangnya sibuk atau hilangAntre, dan bisa mendekati klien langsungSalah pilih partnerBiaya tetap saat sepi proyek
Cocok untukProyek kecil, tenggat longgarSistem khusus, aplikasiWebsite yang dijual rutin atas nama agencyPermintaan website tinggi dan stabil

Freelancer

Freelancer sering paling murah di awal dan fleksibel. Kelemahannya, semuanya bergantung pada satu orang: kalau ia sakit, pindah kerja, atau sedang memegang proyek lain, website klien ikut berhenti. Banyak freelancer membatasi revisi per ronde, jadi biaya akhir bisa naik kalau klien banyak minta perubahan.

Software house

Software house punya tim lengkap dan cocok untuk proyek yang butuh sistem khusus, misalnya kasir, stok, atau aplikasi. Untuk website company profile, harga di banyak software house berkisar Rp 8–25 juta (dari halaman harga beberapa vendor yang kami cek, November 2026), dan banyak yang menghitung per hari kerja. Perhatikan dua hal: antrean proyek mereka, dan apakah mereka juga menjual ke klien akhir. Kalau ya, klien agency bisa saja didekati langsung.

Partner white-label

Partner white-label bekerja di belakang agency. Proposal, demo, dan website memakai nama agency, dan agency memasang harganya sendiri. Kuncinya ada di kontrak: tenggat, aturan revisi, dan janji tidak saling ambil klien. Penjelasan lengkap ada di apa itu website white-label.

Tim web sendiri

Tim sendiri memberi kendali penuh, tapi gaji tetap jalan saat proyek sepi. Biasanya baru masuk akal kalau permintaan website datang rutin dan cukup banyak untuk membuat tim sibuk sepanjang tahun.

Tiga pertanyaan untuk memutuskan

  1. Seberapa sering klien Anda minta website? Sesekali: freelancer atau partner. Rutin dan banyak: tim sendiri.
  2. Siapa yang harus terlihat di depan klien? Kalau harus agency: partner white-label atau tim sendiri.
  3. Berapa biaya revisinya, bukan hanya harga awalnya? Minta aturan revisi tertulis sebelum membandingkan harga.

Tanya jawab

Mana yang paling murah untuk agency?

Di atas kertas biasanya freelancer. Tapi biaya sebenarnya ikut revisi: kalau revisi dibatasi ronde dan sisanya ditagih per jam, total biaya bisa melewati pilihan lain. Bandingkan harga beserta aturan revisinya.

Kapan agency sebaiknya punya tim web sendiri?

Saat permintaan website datang rutin dan cukup banyak untuk menggaji tim penuh waktu. Kalau permintaan baru sesekali, tim sendiri sering menganggur di antara proyek.

Apakah boleh memakai lebih dari satu vendor?

Boleh. Banyak agency memakai partner white-label untuk website standar dan software house untuk sistem khusus. Yang penting, tiap vendor punya kontrak yang jelas soal klien dan nama.

Chat WhatsApp